Obrolan

  • Kertas : Pengorbanan Hutan demi Peradaban

    Kertas : Pengorbanan Hutan demi Peradaban

    Kertas adalah susunan senyawa polimer selulosa yang telah ditemukan sejak tahun 50 M di China. Kertas kala itu dibuat dari kulit kayu murbei yang diproses dengan pemisahan, peleburan, pengentalan, dan pencetakan. Sejak saat itu, kertas telah mengalami banyak perkembangan baik dari proses produksinya maupun bahan bakunya.

    Kertas bukan merupakan barang yang asing bagi manusia. Kertas telah menjadi media utama yang digunakan manusia untuk menyimpan apapun yang terjadi disekitarnya, baik sebagai catatan pribadi, sarana komunikasi, hingga untuk mengabadikan ilmu pengetahuan. Kertas menjadi bahan yang mudah didapat, mudah dipakai, dan mudah dibuang.

    Dalam kurun waktu 1 tahun, Indonesia membutuhkan sekitar 5,6 juta ton kertas. Menurut data yang diambil pada tahun 2014, produksi kertas indonesia telah mencapai 10,40 juta ton, dengan 4,50 juta ton diekspor.

    Produksi kertas secara komersial menggunakan bahan baku berupa kulit kulit kayu. Kulit kulit kayu ini didapat dari pohon pohon yang biasanya berupa pohon pinus dengan umur 5 – 6 tahun. Kulit kayu akan diekstraksi kandungan selulosanya berupa serat serat dengan sebutan pulp. Untuk memproduksi kertas sebanyak 5,6 juta ton, akan dibutuhkan pulp sebanyak 4,7 juta ton. Dengan perhitungan kasar, untuk memenuhi kebutuhan kertas Indonesia setiap tahunnya akan dibutuhkan kayu pinus berumur 5 – 6 tahun sebanyak 136,3 hektar, dan 817,8 hektar untuk dapat menjalankan industri secara terus menerus. Jika dibandingkan dengan luas hutan Indonesia yang sebesar 133 juta hektar, angka ini dapat dibilang kecil.

    Sayangnya, produksi kertas secara komersial tidak pernah diimbangi dengan penanaman ulang lahan yang dirusak. Menurut data tahun 2015, hamparan pohon sebanyak 817,8 hektar tidak seluruhnya berasal dari wilayah hutan tanaman industri (HTI). Hutan tanaman industri hanya menyumbang sebesar 30% dari seluruh luasan yang dibutuhkan oleh Indonesia. Hal ini berarti, setiap tahunnya ada sekitar 572,46 juta hektar hutan yang dirusak untuk keperluan kertas kita.

    Kertas merupakan segala jenis olahan selulosa dengan proses pembuatan pulp dan pencetakan yang dapat diberi zat tambahan berupa pewarna, perekat, maupun zat lain. Kertas tidak terbatas pada alas kita untuk menulis, namun juga tisu, nota, bahkan bungkus burjo. Kita mungkin telah lama memandang sebelah mata tentang betapa pentinnya dia, namun niscaya, tidak ada media yang nomor dua dalam bidangnya. Mari mulai menghargai kertas bukan sebagai barang yang mudah, namun sebagai satuan unit tumbuhan.

     

    (Barkah)

  • Hasrat Semu Masyarakat Pasar

    Di bawah belenggu neoliberalisme, beberapa orang mungkin menyadari betapa pesimisnya arus pemikiran filsafat ketika harus dianaktirikan dan menyingkir dihadapan kesahihan ilmu-ilmu alam. Wajah kritis penuh karisma dari filsafat rupanya telah menemui kerut kusam masa tuanya. Ketika kaum logosentris sibuk debat kusir semantik bersama dengan kaum-kaum lain yang rajin mempostulasikan kontingensi keberan, kaum tertindas dan manusia-manusia di dunia ketiga sedang menyibak ruam kehidupan lewat kemiskinan, bencana alam, maupun menjadi korban dari ketidakadilan, sembari menggelepar menunggu bisikan dari kaum-kaum intelektual yang pernah diagung-agungkan itu. Alangkah baiknya jika kita mengakui bahwa nafas intelektual cenderung tersengal-sengal di bawah deru hegemoni. Namun, hal ini bukan berarti bahwa tugas mengemban konstruksi modernitas dapat digelontorkan kepada kepasrahan begitu saja. Justru dari sinilah kemudian tantangan baru filsafat menyeruak, yaitu berupaya mencari kebenaran menembus tempurung korelat ideologis manusia modern. (more…)

  • Menyoal Perempuan dalam Pusaran Sejarah Pers

    Menyoal Perempuan dalam Pusaran Sejarah Pers

    Kebebasan pers dan jurnalisme adalah salah satu pilar dari demokrasi. Dengannya, ide-ide akan mengalir bebasdan bersamanya, informasi yang menjernihkan akan terbawa. Dalam sejarahnya, sebelum emansipasi wanita naik daun, profesi jurnalisme biasanya hanya terbatas untuk kalangan kaum pria saja. Wanita dianggap tidak pantas untuk menekuni dunia pers dan jurnalisme karena dianggap sebagai pekerjaan yang terlalu berbahaya dan terlalu reaktif untuk wanita.

    Pada mulanya, wanita, ketika berkecimpung dalam jurnalisme, topik yang diliputnya hanya terbatas kepada topik-topik yang membahas tentang wanita saja. Salah satu tokoh wanita pelopor yang mencoba masuk ke dunia jurnalisme adalah Elizabeth Jane Cochran (1864-1922), atau biasa juga dipanggil sebagai Nellie Bly. Pada mulanya, dia sering mendapat pandangan sebelah mata dari rekan-rekan kerjanya yang pria. Untuk menampikkan stereotipe yang melekat pada dirinya tersebut, Nellie Bly melakukan sebuah pekerjaan yang relatif berani, yaitu meliput keadaan pada sebuah rumah sakit jiwa di New York, yang ternyata didalamnya para pasien mendapat perlakuan yang tidak pantas dan tidak manusiawi. Atas jasanya, New York Journal menganugerahkan gelar “Best Reporter in America” pada tahun 1922, sesaat setelah dia meninggal.

    Tokoh jurnalis wanita di Indonesia tentu saja tidak kalah hebatnya, dan catatan sejarah pada senja era kolonialisme dan fajar era perjuangan kemerdekaan menegasakannya dengan baik. Pada masa itu, media pers adalah sebuah sarana yang sempurna untuk mengobarkan semangat rakyat di bawah penindasan Belanda.

    Salah satu pejuang kemerdekaan sekaligus pelopor dan perintis surat kabar perempuan pertama di Indonesia adalah Roehana Koeddoes. Beliau lahir di Koto Gadang, Hindia Belanda pada tahun 1884. Adik tiri dari Sutan Sjahrir, bibi dari Chairil Anwar, dan sepupu dari H. Agus Salim ini hidup pada masa yang sama dengan R.A. Kartini. Sejak kecil, meskipun dia berasal dari kalangan wanita bumiputera yang pada masanya masih belum bisa mendapat pendidikan formal, sudah diajarkan cara membaca, menulis, dan berbahasa oleh ayahnya. Hal tersebut kelak akan membuatnya tumbuh menjadi wanita yang pandai dan kritis terhadap situasi politik dan sosial pada masanya. Roehana Koeddoes sadar akan perlunya emansipasi wanita, dan untuk menyalurkan ide dan keinginannya, dia mendirikan surat kabar Sunting Melayu pada tahun 1912. Surat kabar tersebut adalah surat kabar pertama yang didirikan oleh wanita di tanah Indonesia. Surat kabar tersebut stafnya semuanya terdiri dari wanita, dan topik yang dibahas pada surat kabar tersebut adalah emansipasi wanita dan perjuangan kemerdekaan, yang sering kali disisipi masalah politik dan kriminal di ranah Minang. Selain itu juga, setahun sebelum mendirikan surat kabar tersebut, Roehana Koeddoes sempat mendirikan sebuah sekolah perempuan juga. Atas jasanya, beliau dianugerahkan sebagai “Perintis Pers Indonesia” pada Hari Pers Nasional III di tahun 1987.

    Selain Roehana Koeddoes, terdapat juga pemimpin perempuan lain yang juga terjun di dunia pers, dan kebetulan juga mempunyai darah Minang. Sebut saja Rasuna Said, yang namanya diabadikan menjadi nama sebuah jalan protokol di selatan kota Jakarta. Istri dari Sayuti Melik yang menulis proklamasi ini terkenal akan tulisan-tulisannya yang tajam dan kritis terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Dia juga menjabat sebagai kepala redaktur majalah Raya, salah satu tonggak perlawanan yang radikal di Sumatera Barat. Nahas, gerak-geriknya dibatasi oleh Belanda dan dia terpaksa kabur ke Medan, dimana dia mendirikan sebuah majalah baru yang bernama Menara Poetri. Majalah tersebut membahas soal emansipasi wanita yang bernuansa anti-kolonial dan perjuangan kemerdekaan. Pada majalah tersebut, beliau menggunakan nama pena ‘Seliguri’, sejenis bunga liar namun berakar kuat.

    Pada masa kini, meskipun keadaan kesetaraan gender di dunia pers sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan keadaan pada beberapa puluh tahun yang lalu tapi masih banyak ‘pekerjaan rumah’ yang perlu diselesaikan. Nellie Bly, Roehanna Koeddoes, dan Rasuna Said membuktikan bahwa wanita tidak bisa diremehkan dan dipandang sebelah mata dalam bidang jurnalistik.

    Oleh karena itu, pada momentum Hari Pers Nasional ini, mari kita semua berikan penghargaan dan penghormatan kepada orang-orang yang bekerja secara tulus dan penuh semangat di dunia pers, apapun gender yang mereka miliki.

    Disusun oleh      : Mahardika

    Editor                    : Novita

  • “Supercatalyst” Solusi Pemanasan Global

    “Supercatalyst” Solusi Pemanasan Global

    Dalam beberapa tahun terakhir, pemanasan global telah menjadi subyek banyak kontroversi politik. Tanda-tanda pemanasan global terekam di seluruh dunia. Suhu rata-rata Bumi telah meningkat lebih dari 1 derajat Fahrenheit (0,8 derajat Celsius) selama sebad terakhir, dan sekitar dua kali di wilayah Arktik. Lingkar tahunan batang pepohonan, sedimen organisme yang mengendap di dasar lautan, serta perubahan karakteristik lapisan es di kutub bumi mampu menceritakan banyak hal yang membuktikan bahwa iklim di bumi terus berubah-ubah seiring waktu.
    (more…)

  • Berkah Hujan : Warga Gotong Royong Perbaiki Jalan

    Berkah Hujan : Warga Gotong Royong Perbaiki Jalan

    (8/10) Sebagian jalan Selokan Mataram, Pogung Dalangan, untuk sementara ini ditutup dan dialihkan menuju jalan alternatif timur Selokan Mataram. Pengalihan jalan ini dilakukan karena adanya kegiatan  perbaikan jalan oleh warga sekitar terutama warga yang berasal dari RT 20. Perbaikan jalan sudah dilakukan sejak pukul 07:00 pagi. Warga bergotong royong untuk memperbaiki jalan yang sudah rusak.

    (more…)

  • Lika-Liku Wakilku

    Lika-Liku Wakilku

    Sepak terjang Setya Novanto

    Akhir-akhir Perhatian Indonesia ditarik oleh kasus kemenangan praperadilan yang diajukan oleh Setya Novanto (Setnov) asas kasus E-KTP yang menderanya. (more…)

  • Regenerasi Petani Mandek: Adakah Yang Bercita-cita Menjadi Petani?

    Regenerasi Petani Mandek: Adakah Yang Bercita-cita Menjadi Petani?

    Berdasarkan data Badan Pusat statistik tahun 2013, jumlah petani pada sektor pertanian adalah 31.705.337 orang dengan jumlah laki-laki 24.362.157 dan perempuan sebanyak 7.343.180. Jumlah petani tersebut yang akan memenuhi kebutuhan pangan penduduk Indonesia yang jumlahnya saat ini mencapai 237.641.326 jiwa pada tahun 2010 dan terus meningkat jumlahnya tiap tahun. (more…)

Akademik

Website UGM

Website Utama UGM.

Fakultas Teknik

Website Fakultas Teknik

Ditmawa UGM

Website Ditwama UGM